♫
.IRAMA KEBERSAMAAN ♫
![]() |
| Add caption |
Senja mulai menampakan diri dengan sang langit.
Mataharipun seakan enggan untuk bersinar lagi. Terlihat rembulan masih ragu
bersinar karena matahari masih termenung diujung bumi. Sementara itu hembusan
angin semilir merasuk di sela-sela tulang rusuk, yang begitu menyejukan hati.
Tak heran penduduk setempat lebih senang menghabiskan waktu nya dengan
jalan-jalan keluar mengelilingi taman desa, dari pada di rumah hanya untuk
menyaksikan sinetron. Atau menyaksikan kaum hawa bermain volley dan badminton
didekat taman desa. Bisa juga ikut bermain sepak bola dengan para pejantan
tanggguh di tempat yang cukup jauh dari permukiman warga.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Seperti
biasa Aabdi dan ayahnya bermain sepak bola ikut bersama rekan-rekan mereka.
Sementara bundanya juga tak menyia-nyiakan nikamat Allah dengan bermain volley. Namun sang abi dan umi[1] memilih
untuk menikmati kuasa-Nya dengan berjalan santai mengitari desa. Seperti itulah
aktivitas sore keluarga Aabdi, jika tidak mempunyai kesibukan lebih selalu
menyempatkan diri bersengkrama dengan hari jika situasi dan kondisi memadai.
Keringat telah didapat, sehatpun lebih nikmat.
Setelah berhasil membobol beberapa gol dari grup sang ayah, Aabdipun pulang
dengan wajah yang lega. Sementara sang ayah pulang dengan hasil yang cukup
kecewa, walaupun itu hanya permainan biasa.
“Katanya back[2]
tangguh dari F.C.Bulldozer, masa gak bisa menjaga gerakan seorang anak kecil,
katanya?” Sindir Aabdi kepada ayahnya setelah puas mempermalukan tim ayahnya
dengan skor 5-1.
“Hmmm.... itu karna ayah kurang fitt A’
hari ini, jadi gak bisa bermain maksimal.”pungkas sang ayah tak mau kalah dan
berjalan meninggalkan lapangan sendirian.
“Huuuu....
Itu mah alasan ayah aja, bilang aja
gak bisa membendung skill Aabdi.
Hehehe...” dengan berlari kecil mendekati sang ayah
“Ni
anak, awas ya kalau ayah bisa jaga Aa’, uang jajan nya ayah tahan selama
sebulan.”
“Waduh,
jangan dong yah. Bisa-bisa Aa’ makan batu nanti disekolah.” Aabdi sedikit
terkejut.
“Makanya
jang pernah remehin ayah.”
“Tapi
yah, kalau ayah gak bisa halau Aa’ uang jajan dilipatgandakan ya yah?” tawar
Aabdi.
“Hushh..
Aa’ itu sama aja dengan taruhan, dan taruhan termasuk judi. Dan taukan judi itu
apa?” menasihati seraya mengelus kepala Aabdi.
“Tapi kalau sedikit gak apa-apa kan?”
“Yahh....
itu sama aja A’. Sekecil apapun dosa, tetap aja itu dosa namanya. Mau perutnya
ngebeldak gara-gara makan uang kayak gitu”
“Iiiii...
naudzubillah yah, semoga jangan sampe ya Allah.” Menhusap perut nya sambil
memalingkan muka ke langit.
Panggian Ilahi
telah berkumandang dimuka bumi kampung Suka Jadi. Waktu telah menasehati para
manusia untuk segera menunaikan ibadah sholat maghrib. Aabdi pun segera
menunaikan ibadah sholat maghrib secara berjamaah bersama keluarganya, kecuali
umi nya karena umi sedang berhalangan. Tradisi sholat berjamaah dalam keluarga
ini sepertinya akan selalu melekat, karna ini sudah menjadi warisan
turun-menurun mereka.
Tok...tok...tok...
tiba-tiba terdengar suara pintu terketuk seraya terdengar salam. Seperti nya
dari pintu depan. Umi segera membuka pintunya. Ternyata Farhan, sahabat karib
Aabdi. Tak mau menyia-nyiakan kecerdasan sahabatnya, Farhan bermaksud untuk
belajar bersama untuk persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional yang akan
dilaksanakan 2 minggu lagi.
Bunda
yang mendengar kedatangan Farhan segera untuk menghampirinya.
“Eh
ada Farhan ternyata. Mau belajar bareng ya? Dah makan nak” tanya nya.
“Ya
Bunda. Alhamdulillah udah makan bunda.” Jawab nya dengan nada yang sedikit
malu.
“Oh..
Yu’ sekalian kita makan malam bersama. Dah lama kan Farhan gak makan masakan
bunda. Pasti kangen kan?”
“Tapii...”
“Dah
yuk kedapur. Yang lain udah di dapur semua” potong umi.
Bunda
pun menarik tangan Farhan dan membawa nya ke dapur. Karna kalau tak di ajak
seperti itu, Farhan tidak akan mau karna sifatnya yang pemalu.
“Eh
Farhan. Sini Han. Kita makan malam dulu. Baru kita belajar.” Ajak Aabdi.
Farhan pun
semakin merasa malu dan tidak enak. Tapi kalau sudah seperti itu keadaannya, ia
pun tak mampu untuk menghindarinya.
Perut kenyang,
pikiran pun tenang. Aabdi dan Farhan tak mau membuang waktu terlalu banyak,
karna waktu kian terasa mendesak. Mereka serius belajar. Karna ada target yang
mau mau mereka gaet.
Keasikan
belajar, tak terasa jarum jam semakin melar. Farhan harus segera pulang. Karna
ia tak mau meninggalkan rumah dalam kondisi tak berpenghuni.
Tiba-tiba
bunda masuk ke kamar Aabdi yang merupakan tempat mereka belajar tadi.
“Ni
Farhan buat selimut. Jangan pake selimut Aabdi bau iler” canda bunda serta memberikan selimut tebal kepada Farhan.
“Tapi
Bunda, Farhan gak bisa nginep. Rumah gak ada orang nya. Bapak jam 2 malam baru
pulan.” Jawab Farhan
“Tapi
ini udah jam setengah satu sayang. Sekalian sholat isya berjamah sama Aabdi.
Bentar lagi kan bapak Farhan pulang. Adik mu kan lagi Perjusami[3]
kan di di desa Bintar? Gak apa-apalah di sini. Jangan buat Bunda khwatir ya
sayang”
Farhan
pun terdiam seribu bahasa. Ia merasa malu dan terharu. Masih memiliki
orang-orang yang mau menyayangi nya, khususnya dari seorang Bunda.
Mendengar
dialog mereka, Aabdi hanya tersenyum. Karna senang Farhan mau menemaninya
berlayar kedunia mimipi. Karna biasanya Aabdi tidur sendiri, tanpa ada adik
atau kakak yang menemani. Farhan lah yangg sudah lama di anggap sebagai kakak
nya.
Bunda
merasa senang, karna tawarannya di terima oleh Farhan. Tidak hanya bunda, semua
keluarga Aabdi telah menganggap Farhan bagian dari keluarga mereka.
Farhan yang
hanya tinggal bersama bapaknya dan seorang adik lelakinya karena sang mama yang
telah terlebih dahulu mendapat kesempatan ke surga salah satu membuat perhatian
mereka. Ditambah ketabahan, kepintaran dan kesolehan yang mereka yang begitu
mengagumkan. Miris melihat nasib Farhan, harus layu di dalam kalbu. Sang
mentari yang tak lagi menampakkan diri, membuat beku dan haus menjadi rasa
padu. Bumi takan mampu membendung rasa kehilangan, hanya hujan yang mampu
menyamarkan kesedihan. Yang ada hanya rembulan. Yang mampu bersinar pada
kondisi tertentu. Yang hanya menampakkan jika tidak memiliki kesibukan. Karna
bapak mempunyai banyak kewajiban. Keikhlasan dan ketabahan Farhan, yang mampu
berjalan dengan setengah cinta, yang ia tahu hanya dari ayahnya.
Setelah
menunaikan kewajiban kepada sang Khaliq yang tak lupa di iringi lantunan
dzikir, Bunda dan umi menyiapkan sarapan untuk aktivitas para kau adam di rumah
tersebut.
Hari
semakin terang, perutpun telah kenyang. Farhan segera pamit pulang untuk segera
bersiap-siap memburu ilmu.
Ayah
telah siap dan segera melangkahkan kaki ke kantornya dengan menggunakan motor
besarnya. Tak mau kalah, Aabdi juga ber gegas ke sekolah. Memang jarum jam
masih menunjukkan pukul 6.35, namun ayah dan Aabdi begitu bergegas. Mereka
memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi yang ingin memberikan contoh teladan
kepada rekan-rekan.
Namun
Aabdi tidak berangkat sendiri. Ia selalu ditemani sang sahabat sejati.
Tiba
disekolah, ternyata sepert biasa masih terlihat sepi. Terlihat embun masih
enggan melepasksan dekapan dari dedaunan. Matahri yang masih malu-malu untuk
berseri.
Mereka
memasuki kelas. Pandangan mereka terpusat pada paras seorang gadis berjilbab
biru sedang membaca buku, yang hanya fokus terpaku. Ternyata, dia lah Meyda. Gadis
yang berparas lembut. Yang membuat para pria selalu tepesona dengan inner beauty nya. Apalagi dengan Aabdi
yang sudah menyukainya sejak di kelas 1 SMA hingga kini di penghujung SMA. Lain
hal nya dengan Farhan yang lebih dekat dengan Ilma. Gadis yang manis tapi
terlihat sadis. Gadis berjilbab yan senang memainkan aktivitas pria, seperti
sepak bola maupun dan petualangan yang mampu memicu ardenalinnya. Terlihat dari
gerak-gerik mereka, antara Aabdi dan Meyda serta Farhan dan Ilma mereka
memendam rasa yang sama, yaitu sama-sama suka. Tapi entah kenapa mereka begitu
enggan untuk saling mengungkapkan. Aabdi dan Farhan ingin mengungkapkan setelah
kelulusan. Mereka masih ingin fokus dengan serangan ujian.
Di
temani secangkir kopi Farhan duduk di halaman rumah seorang diri. Hasil ujian
akhir akan segera didapatkan. Kemana langkah selanjutnya untuk dijajakkan.
Terlintas, ia ingin mengurangi beban keluarga dengan bekerja. Namun dari hati
nurani, ia ingin melanjutkan lagi. Zaman sekarang, lulusan SMA hanya
ditempatkan dibelakang. Tentu ini tak sesuai dengan ambisi yang terbentang.
“Tapi kuliah? Apa
akan menyelesaikan masalah. Yang ada tambah buat bapak susah.” Gumam dalam
hatinya.
Seperti
biasa, jika Farhan merasa sepi ia selau berkunjung ke rumah Aabdi. Karena rumah
Aabdi bagaikan rumah keduanya. Di tambah sikap keluarga Aabdi yang begitu
sangat memperhatikannya.
Di
sela-sela obrolan antara Ayah, Abi, Aabdi dan Farhan. Tiba-tiba Ayah bertanya.
“Mau
lanjutin ke mana Han?”
“Lanjutin
di tempat kerja aja yah.” Jawab nya.
“Jadi
gak kuliah?”
“Farhan
gak bisa yah terus-terusan ngerepotin bapak. Farhan coba mau bantu bapak?
“Ya
tapi mau kerja apa cuman lulus SMA? Di sini kita susah mau kerja, kalau gak
punya cakar yang tajam.”
“Ya
sebetulnya pun mau nya kuliah yah. Ya tapi,,,, sudahlah.”
“Kalau
kuliah di ITB masa Aabdi mau gak?”
“Ayah
ini, siapa sih yang gak mau kuliah di sana?”
“Ya
udah, nanti ayah bantu urus kamu biar bisa kuliah di sana.”
“Farhan
kan gak punya biaya yah.”
“Nanti
ayah usaha kan untuk mencari beasiswa untuk Aabdi dan kamu. Insya Allah ayah
usahain kalian bisa kuliah bareng.”
“Makasih
banyak ya yah. Maaf kalau Farhan selalu ngerepotin orang-orang di sini.”
“Ngomong
apa kamu Han. Kamu kan udah bagian dari keluarga ini. Jadi kamu adalah tanggung
jawab ayah juga.”
Tak
terasa, Farhan pun menteteskan air mata nya. Karena terharu ia masih merasakan
kehangatan keluarga.
Hari
menegangkan telah terlewatkan. Kabar kelulusan telah dinantikan. Hasil
perjuangan para siswa akan segera dikabarkan. Tiba di penghujung masa putih
abu-abu. Setelah pukul 16.05 para siswa kelas 12 telah berkumpul dilapangan
tengah sekolah. Para orang tua juga tak mau ketinggalan moment awal kebahagiaan
ini. Keluarga Aabdi datang semua. Namun bapak Farhan tak bisa menyempatkan
hadir, karena masih ada kesibukan pekerjaan. Tapi bagi Farhan, keluarga Aabdi
sama saja keluarganya juga.
“Aabdi,
kamu tegang gak?” tanya Farhan di saat berbaris ketika kepala sekolah memberi
kata sambutan.
“Tegang
juga sih. Tapi kita yakin aja kalau kita pasti LULUS” jawabnya berbisik.
“Kalau
kamu aku yakin lulus A’. Kamu kan pintar. Kalau aku ini kan biasa-biasa aja.
Bisa aja dapat hasil yang tak terduga.”
“Emangnya
kita harus luar biasa baru bisa lulus? Udah lah, jangan terlalu tegang. Di bawa
relax aja. Kalau kamu udah ngerasa
maksimal dalam berjuang, ngapain harus tegang? Ini saat nya kita panen setelah
menanam selama 3 tahun Han.” Pungkas Aabdi.
Farhan
pun terdiam sejenak. Mencoba mencerna apa yang dituturkan sahabatnya, ternyata
ada benarnya. Farhan mencoba untuk memilh sedikit tenang.
Ketegangan para
siswa kian memuncak setelah amplop putih telah dibagikan. Masing-masing siswa
sudah menggenggam amplop di tangan.
Sesekali Farhan malu terhadap diri sendiri. Ia begitu merasa gugup.
Sedangkan dari mata sesekali memalingkan mata kebelakang melihat Ilma yang
begitu santai menghadapi semua.
Kepala sekolah
memberikan aba-aba untuk membuka amplopnya secara bersama-sama. 1...2....3....
“LULUUUUUUS” terdengar teriak para siswa. Ternyata mereka para siswa kelas 12
SMA Garuda lulus semua. Mereka secara bersama-sama melakukan sujud syukur.
Sebagai ucapkan terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberikan mereka
kebahagiaan. Para orang tua murid hanya bisa tersenyum bangga. melihat anak-anaknya
yang merasa bahagia.
Di
sela-sela hiporia kelulusan Aabdi berdiri di dekat parkiran.
“Aabdi jadi kuliah di Bandung?”
Tiba-tiba
terdengar suara yang tak disadari Aabdi berasal dari seseorang di sampingnya.
“Eh..
Meyda. Ia mey, insya Allah Aabdi maunya di ITB. Kalau Mey di mana?”
“Kalau
Mey mau nya yang bisa deket-deket dengan Aa’. Hehehe ” Canda nya.
Walaupun
itu hanya gurauan semata, namun Aabdi seperti ada yang berbeda. Ia hanya
terdiam.
“Maaf
ya A’ kalau Meyda buat Aa’ marah.” Sedikit menundukkan kepala.
“Gak
kok Mey. Santai aja, seriuspun enggak apa.” Senyumnya.
Meyda
hanya terseyum kembali, meberi Aabdi sebuah pesan beramplopkan merah jambu.
Meyda pun berlari hingga tak menampakkan diri.
Ternyata
itu adalah sebuah surat untuknya.
Setelah
di buka, ternyata hanya tertuliskan beberapa kata.
“Terima
kasih atas semua perhatian dan senyuman. Ku harap persahabatan kita akan
bertahan hingga akhir zaman.”
Aabdi hanya bisa
tersenyum. Ini adalah ujung kepastian. Ternyata Meyda menganggakan nya hanya
sebagai sahabat, gak lebih dari itu. Kekecewaan sempat singgah di hati Aabdi,
namun hanya hati yang dapat mengerti. Biarlah sang waktu, yang akan menuntunnya
tentang cinta itu. Yang terpenting ia harus fokus kuliah untuk memulai langkah.
Setelah menanti
dalam ketegangan, di hantui dengan kegelisahan, semua telah tertuntaskan.
Akhirnya tertera nama Aabdi dan Farhan dalam daftar nama-nama siswayang di
terima di ITB. Keinginan dan tujuan mereka terus tercapai untuk membangun
impian kesuksesan dalam persahabatan hingga akhir zaman. In sha Allah.
***
