Friday, September 26, 2014

♫ .IRAMA KEBERSAMAAN ♫

Add caption
Senja mulai menampakan diri dengan sang langit. Mataharipun seakan enggan untuk bersinar lagi. Terlihat rembulan masih ragu bersinar karena matahari masih termenung diujung bumi. Sementara itu hembusan angin semilir merasuk di sela-sela tulang rusuk, yang begitu menyejukan hati. Tak heran penduduk setempat lebih senang menghabiskan waktu nya dengan jalan-jalan keluar mengelilingi taman desa, dari pada di rumah hanya untuk menyaksikan sinetron. Atau menyaksikan kaum hawa bermain volley dan badminton didekat taman desa. Bisa juga ikut bermain sepak bola dengan para pejantan tanggguh di tempat yang cukup jauh dari permukiman warga.
Jarum jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Seperti biasa Aabdi dan ayahnya bermain sepak bola ikut bersama rekan-rekan mereka. Sementara bundanya juga tak menyia-nyiakan nikamat Allah dengan bermain volley. Namun sang abi dan umi[1] memilih untuk menikmati kuasa-Nya dengan berjalan santai mengitari desa. Seperti itulah aktivitas sore keluarga Aabdi, jika tidak mempunyai kesibukan lebih selalu menyempatkan diri bersengkrama dengan hari jika situasi dan kondisi memadai.
Keringat telah didapat, sehatpun lebih nikmat. Setelah berhasil membobol beberapa gol dari grup sang ayah, Aabdipun pulang dengan wajah yang lega. Sementara sang ayah pulang dengan hasil yang cukup kecewa, walaupun itu hanya permainan biasa.
“Katanya back[2] tangguh dari F.C.Bulldozer, masa gak bisa menjaga gerakan seorang anak kecil, katanya?” Sindir Aabdi kepada ayahnya setelah puas mempermalukan tim ayahnya dengan skor 5-1.
“Hmmm.... itu karna ayah kurang fitt A’ hari ini, jadi gak bisa bermain maksimal.”pungkas sang ayah tak mau kalah dan berjalan meninggalkan lapangan sendirian.
“Huuuu.... Itu mah alasan ayah aja, bilang aja gak bisa membendung skill Aabdi. Hehehe...” dengan berlari kecil mendekati sang ayah
“Ni anak, awas ya kalau ayah bisa jaga Aa’, uang jajan nya ayah tahan selama sebulan.”
“Waduh, jangan dong yah. Bisa-bisa Aa’ makan batu nanti disekolah.” Aabdi sedikit terkejut.
“Makanya jang pernah remehin ayah.”
“Tapi yah, kalau ayah gak bisa halau Aa’ uang jajan dilipatgandakan ya yah?” tawar Aabdi.
“Hushh.. Aa’ itu sama aja dengan taruhan, dan taruhan termasuk judi. Dan taukan judi itu apa?” menasihati seraya mengelus kepala Aabdi.
 “Tapi kalau sedikit gak apa-apa kan?”
“Yahh.... itu sama aja A’. Sekecil apapun dosa, tetap aja itu dosa namanya. Mau perutnya ngebeldak gara-gara makan uang kayak gitu”
“Iiiii... naudzubillah yah, semoga jangan sampe ya Allah.” Menhusap perut nya sambil memalingkan muka ke langit.
Panggian Ilahi telah berkumandang dimuka bumi kampung Suka Jadi. Waktu telah menasehati para manusia untuk segera menunaikan ibadah sholat maghrib. Aabdi pun segera menunaikan ibadah sholat maghrib secara berjamaah bersama keluarganya, kecuali umi nya karena umi sedang berhalangan. Tradisi sholat berjamaah dalam keluarga ini sepertinya akan selalu melekat, karna ini sudah menjadi warisan turun-menurun mereka.
Tok...tok...tok... tiba-tiba terdengar suara pintu terketuk seraya terdengar salam. Seperti nya dari pintu depan. Umi segera membuka pintunya. Ternyata Farhan, sahabat karib Aabdi. Tak mau menyia-nyiakan kecerdasan sahabatnya, Farhan bermaksud untuk belajar bersama untuk persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi.
Bunda yang mendengar kedatangan Farhan segera untuk menghampirinya.
“Eh ada Farhan ternyata. Mau belajar bareng ya? Dah makan nak” tanya nya.
“Ya Bunda. Alhamdulillah udah makan bunda.” Jawab nya dengan nada yang sedikit malu.
“Oh.. Yu’ sekalian kita makan malam bersama. Dah lama kan Farhan gak makan masakan bunda. Pasti kangen kan?”
“Tapii...”
“Dah yuk kedapur. Yang lain udah di dapur semua” potong umi.
Bunda pun menarik tangan Farhan dan membawa nya ke dapur. Karna kalau tak di ajak seperti itu, Farhan tidak akan mau karna sifatnya yang pemalu.
“Eh Farhan. Sini Han. Kita makan malam dulu. Baru kita belajar.” Ajak Aabdi.
Farhan pun semakin merasa malu dan tidak enak. Tapi kalau sudah seperti itu keadaannya, ia pun tak mampu untuk menghindarinya.
Perut kenyang, pikiran pun tenang. Aabdi dan Farhan tak mau membuang waktu terlalu banyak, karna waktu kian terasa mendesak. Mereka serius belajar. Karna ada target yang mau mau mereka gaet.
Keasikan belajar, tak terasa jarum jam semakin melar. Farhan harus segera pulang. Karna ia tak mau meninggalkan rumah dalam kondisi tak berpenghuni.
Tiba-tiba bunda masuk ke kamar Aabdi yang merupakan tempat mereka belajar tadi.
“Ni Farhan buat selimut. Jangan pake selimut Aabdi bau iler” canda bunda serta memberikan selimut tebal kepada Farhan.
“Tapi Bunda, Farhan gak bisa nginep. Rumah gak ada orang nya. Bapak jam 2 malam baru pulan.” Jawab Farhan
“Tapi ini udah jam setengah satu sayang. Sekalian sholat isya berjamah sama Aabdi. Bentar lagi kan bapak Farhan pulang. Adik mu kan lagi Perjusami[3] kan di di desa Bintar? Gak apa-apalah di sini. Jangan buat Bunda khwatir ya sayang”
Farhan pun terdiam seribu bahasa. Ia merasa malu dan terharu. Masih memiliki orang-orang yang mau menyayangi nya, khususnya dari seorang Bunda.
Mendengar dialog mereka, Aabdi hanya tersenyum. Karna senang Farhan mau menemaninya berlayar kedunia mimipi. Karna biasanya Aabdi tidur sendiri, tanpa ada adik atau kakak yang menemani. Farhan lah yangg sudah lama di anggap sebagai kakak nya.
Bunda merasa senang, karna tawarannya di terima oleh Farhan. Tidak hanya bunda, semua keluarga Aabdi telah menganggap Farhan bagian dari keluarga mereka.
Farhan yang hanya tinggal bersama bapaknya dan seorang adik lelakinya karena sang mama yang telah terlebih dahulu mendapat kesempatan ke surga salah satu membuat perhatian mereka. Ditambah ketabahan, kepintaran dan kesolehan yang mereka yang begitu mengagumkan. Miris melihat nasib Farhan, harus layu di dalam kalbu. Sang mentari yang tak lagi menampakkan diri, membuat beku dan haus menjadi rasa padu. Bumi takan mampu membendung rasa kehilangan, hanya hujan yang mampu menyamarkan kesedihan. Yang ada hanya rembulan. Yang mampu bersinar pada kondisi tertentu. Yang hanya menampakkan jika tidak memiliki kesibukan. Karna bapak mempunyai banyak kewajiban. Keikhlasan dan ketabahan Farhan, yang mampu berjalan dengan setengah cinta, yang ia tahu hanya dari ayahnya.
Setelah menunaikan kewajiban kepada sang Khaliq yang tak lupa di iringi lantunan dzikir, Bunda dan umi menyiapkan sarapan untuk aktivitas para kau adam di rumah tersebut.
Hari semakin terang, perutpun telah kenyang. Farhan segera pamit pulang untuk segera bersiap-siap memburu ilmu.
Ayah telah siap dan segera melangkahkan kaki ke kantornya dengan menggunakan motor besarnya. Tak mau kalah, Aabdi juga ber gegas ke sekolah. Memang jarum jam masih menunjukkan pukul 6.35, namun ayah dan Aabdi begitu bergegas. Mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi yang ingin memberikan contoh teladan kepada rekan-rekan.
Namun Aabdi tidak berangkat sendiri. Ia selalu ditemani sang sahabat sejati.

Tiba disekolah, ternyata sepert biasa masih terlihat sepi. Terlihat embun masih enggan melepasksan dekapan dari dedaunan. Matahri yang masih malu-malu untuk berseri.
Mereka memasuki kelas. Pandangan mereka terpusat pada paras seorang gadis berjilbab biru sedang membaca buku, yang hanya fokus terpaku. Ternyata, dia lah Meyda. Gadis yang berparas lembut. Yang membuat para pria selalu tepesona dengan inner beauty nya. Apalagi dengan Aabdi yang sudah menyukainya sejak di kelas 1 SMA hingga kini di penghujung SMA. Lain hal nya dengan Farhan yang lebih dekat dengan Ilma. Gadis yang manis tapi terlihat sadis. Gadis berjilbab yan senang memainkan aktivitas pria, seperti sepak bola maupun dan petualangan yang mampu memicu ardenalinnya. Terlihat dari gerak-gerik mereka, antara Aabdi dan Meyda serta Farhan dan Ilma mereka memendam rasa yang sama, yaitu sama-sama suka. Tapi entah kenapa mereka begitu enggan untuk saling mengungkapkan. Aabdi dan Farhan ingin mengungkapkan setelah kelulusan. Mereka masih ingin fokus dengan serangan ujian.
Di temani secangkir kopi Farhan duduk di halaman rumah seorang diri. Hasil ujian akhir akan segera didapatkan. Kemana langkah selanjutnya untuk dijajakkan. Terlintas, ia ingin mengurangi beban keluarga dengan bekerja. Namun dari hati nurani, ia ingin melanjutkan lagi. Zaman sekarang, lulusan SMA hanya ditempatkan dibelakang. Tentu ini tak sesuai dengan ambisi yang terbentang.
“Tapi kuliah? Apa akan menyelesaikan masalah. Yang ada tambah buat bapak susah.” Gumam dalam hatinya.
Seperti biasa, jika Farhan merasa sepi ia selau berkunjung ke rumah Aabdi. Karena rumah Aabdi bagaikan rumah  keduanya.  Di tambah sikap keluarga Aabdi yang begitu sangat memperhatikannya.
Di sela-sela obrolan antara Ayah, Abi, Aabdi dan Farhan. Tiba-tiba Ayah bertanya.
“Mau lanjutin ke mana Han?”
“Lanjutin di tempat kerja aja yah.” Jawab nya.
“Jadi gak kuliah?”
“Farhan gak bisa yah terus-terusan ngerepotin bapak. Farhan coba mau bantu bapak?
“Ya tapi mau kerja apa cuman lulus SMA? Di sini kita susah mau kerja, kalau gak punya cakar yang tajam.”
“Ya sebetulnya pun mau nya kuliah yah. Ya tapi,,,, sudahlah.”
“Kalau kuliah di ITB masa Aabdi mau gak?”
“Ayah ini, siapa sih yang gak mau kuliah di sana?”
“Ya udah, nanti ayah bantu urus kamu biar bisa kuliah di sana.”
“Farhan kan gak punya biaya yah.”
“Nanti ayah usaha kan untuk mencari beasiswa untuk Aabdi dan kamu. Insya Allah ayah usahain kalian bisa kuliah bareng.”
“Makasih banyak ya yah. Maaf kalau Farhan selalu ngerepotin orang-orang di sini.”
“Ngomong apa kamu Han. Kamu kan udah bagian dari keluarga ini. Jadi kamu adalah tanggung jawab ayah juga.”
Tak terasa, Farhan pun menteteskan air mata nya. Karena terharu ia masih merasakan kehangatan keluarga.

Hari menegangkan telah terlewatkan. Kabar kelulusan telah dinantikan. Hasil perjuangan para siswa akan segera dikabarkan. Tiba di penghujung masa putih abu-abu. Setelah pukul 16.05 para siswa kelas 12 telah berkumpul dilapangan tengah sekolah. Para orang tua juga tak mau ketinggalan moment awal kebahagiaan ini. Keluarga Aabdi datang semua. Namun bapak Farhan tak bisa menyempatkan hadir, karena masih ada kesibukan pekerjaan. Tapi bagi Farhan, keluarga Aabdi sama saja keluarganya juga.

“Aabdi, kamu tegang gak?” tanya Farhan di saat berbaris ketika kepala sekolah memberi kata sambutan.
“Tegang juga sih. Tapi kita yakin aja kalau kita pasti LULUS” jawabnya berbisik.
“Kalau kamu aku yakin lulus A’. Kamu kan pintar. Kalau aku ini kan biasa-biasa aja. Bisa aja dapat hasil yang tak terduga.”
“Emangnya kita harus luar biasa baru bisa lulus? Udah lah, jangan terlalu tegang. Di bawa relax aja. Kalau kamu udah ngerasa maksimal dalam berjuang, ngapain harus tegang? Ini saat nya kita panen setelah menanam selama 3 tahun Han.” Pungkas Aabdi.
Farhan pun terdiam sejenak. Mencoba mencerna apa yang dituturkan sahabatnya, ternyata ada benarnya. Farhan mencoba untuk memilh sedikit tenang.
Ketegangan para siswa kian memuncak setelah amplop putih telah dibagikan. Masing-masing siswa sudah menggenggam amplop di tangan.  Sesekali Farhan malu terhadap diri sendiri. Ia begitu merasa gugup. Sedangkan dari mata sesekali memalingkan mata kebelakang melihat Ilma yang begitu santai menghadapi semua.
Kepala sekolah memberikan aba-aba untuk membuka amplopnya secara bersama-sama. 1...2....3.... “LULUUUUUUS” terdengar teriak para siswa. Ternyata mereka para siswa kelas 12 SMA Garuda lulus semua. Mereka secara bersama-sama melakukan sujud syukur. Sebagai ucapkan terima kasih kepada Tuhan yang selalu memberikan mereka kebahagiaan. Para orang tua murid hanya bisa tersenyum bangga. melihat anak-anaknya yang merasa bahagia.
Di sela-sela hiporia kelulusan Aabdi berdiri di dekat parkiran.
 “Aabdi jadi kuliah di Bandung?”
Tiba-tiba terdengar suara yang tak disadari Aabdi berasal dari seseorang di sampingnya.
“Eh.. Meyda. Ia mey, insya Allah Aabdi maunya di ITB. Kalau Mey di mana?”
“Kalau Mey mau nya yang bisa deket-deket dengan Aa’. Hehehe ” Canda nya.
Walaupun itu hanya gurauan semata, namun Aabdi seperti ada yang berbeda. Ia hanya terdiam.
“Maaf ya A’ kalau Meyda buat Aa’ marah.” Sedikit menundukkan kepala.
“Gak kok Mey. Santai aja, seriuspun enggak apa.” Senyumnya.
Meyda hanya terseyum kembali, meberi Aabdi sebuah pesan beramplopkan merah jambu. Meyda pun berlari hingga tak menampakkan diri.
Ternyata itu adalah sebuah surat untuknya.
Setelah di buka, ternyata hanya tertuliskan beberapa kata.
“Terima kasih atas semua perhatian dan senyuman. Ku harap persahabatan kita akan bertahan hingga akhir zaman.”
Aabdi hanya bisa tersenyum. Ini adalah ujung kepastian. Ternyata Meyda menganggakan nya hanya sebagai sahabat, gak lebih dari itu. Kekecewaan sempat singgah di hati Aabdi, namun hanya hati yang dapat mengerti. Biarlah sang waktu, yang akan menuntunnya tentang cinta itu. Yang terpenting ia harus fokus kuliah untuk memulai langkah.
Setelah menanti dalam ketegangan, di hantui dengan kegelisahan, semua telah tertuntaskan. Akhirnya tertera nama Aabdi dan Farhan dalam daftar nama-nama siswayang di terima di ITB. Keinginan dan tujuan mereka terus tercapai untuk membangun impian kesuksesan dalam persahabatan hingga akhir zaman. In sha Allah.

***







[1]panggilan Aabdi kepada kakek dan neneknya
[2] Pemain belakang dalam sepak bola
[3] Perkemahan Jumat Sabtu Minggu